Yanuar Lawan Leukimia

DSC02898_2K

“Lima bulan lalu, anakku divonis menderita sakit kanker darah atau leukimia. Segera setelah vonis tersebut dilayangkan dokter, aku merasa hidupku segera berakhir. Bukan. Bukan hanya karena aku tak punya dana sepeser pun untuk mengobatinya, tetapi karena aku tak punya cukup kekuatan untuk menguatkan anakku, Yanuar. Aku tak punya cukup nyali untuk berkata ‘Tenang, Nak, kamu akan segera sembuh’ karena aku pun kehilangan harapan. Suamiku hanya buruh serabutan yang tak berpendidikan tinggi, sedang aku tak ada pengetahuan lain selain bagaimana cara menggosok panci dan memasak sayur. Kala itu, kami berdua selalu menangis dalam diam di tiap sudut malam.

Malam kami lebih panjang dengan ribuan kalimat doa yang teriring dengan tangis. Malam kami diisi dengan memandangi Yanuar terlelap. Terkadang kami terjaga sepanjang malam karena Yanuar berteriak kesakitan tanpa henti ‘Ma, badanku sakit, Ma.” Lalu aku tak berhenti menangis meski ia akhirnya jatuh tertidur dalam perihnya. Lalu siang kami tak menjadi lebih baik. Hari-hari panjang mengantre di rumah sakit umum tidak hanya menguras seluruh waktu dan tenaga kami, tetapi juga seluruh tabungan kami selama sepuluh tahun menikah. Tidak. Kami tidak punya asuransi, karena makan pun kami bahkan kesulitan.

DSC02893_2K

Dalam himpitan keadaan, kami pernah berpikir sempit dan membawa Yanuar ke pengobatan alternatif. Kepada orang pintar yang masyhur di kampung kami di Purbalingga. Semua orang mempercayainya. Namun alternatif tersebut justru membuat Yanuar menjadi lebih parah. Aku ingat betul badannya bengkak dan pendarahan tak kunjung berhenti. Lalu kami tunggang langgang membawanya ke rumah sakit terdekat. Sejak saat itu, kami tak percaya lagi selain pada pengobatan medis.

Setelah tiga bulan melihat Yanuar merana tanpa kemajuan, aku tak sanggup lagi. Aku utarakan keinginanku untuk berjuang mencari kesembuhan Yanuar kepada suami. Ia pun setuju meski tak tahu mendapat dana darimana. Akan tetapi, kami mencari informasi tentang pengobatan terbaik untuk leukimia, hingga satu tempat kami sepakati, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Berbekal keberanian dan keteguhan hati sebagai Ibu, aku berpamitan dengan sanak saudara di kampung. Beberapa menyumbang dana untuk kami bertahan hidup barang satu dua minggu. Meski bisa sedikit bernapas, aku takut setengah mati.

Setelah kutitipkan anak keduaku pada Mamak di kampung, kami bertiga berangkat ke Yogyakarta. Yogyakarta adalah kota yang selama ini hanya bisa kudengar lewat berita di TV, lewat artikel di koran. Belasan tahun lalu aku pernah menginjakkan kaki di kota ini ketika masih sekolah. Namun kini tak satu jalan pun aku kenali. Suamiku mendapat informasi tentang rumah singgah dimana kami dapat tinggal secara gratis. Rumah singgah itu adalah Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

DSC02869_2K

Sesuai protokol bagi penderita kanker, kami setidaknya harus berada di Yogyakarta selama 17 minggu untuk pengobatan dan kemoterapi. Suamiku mengurus keperluan BPJS segera setelah kami sampai di sini tentu agar kami tak perlu membayar biaya inap rumah sakit. Suamiku bolak-balik kesana kemari mengurus keperluan administrasi Yanuar. Pun ia belajar menggunakan internet untuk mencari informasi mengenai kanker darah. Ia menjalani perannya sebagai Bapak dengan sangat baik. Begitu baik hingga kami masih menghabiskan malam-malam panjang kami bertabur doa bersama.

Kondisi Yanuar sempat membaik. Ia menurut untuk makan dan istirahat secara disiplin. Ia tak mengeluh meski harus menahan sakit dan mual ketika kemoterapi. Ia juga tak pernah lagi berteriak kesakitan dan mengalami pendarahan di mulutnya. Ia seringkali bercerita bahwa kini mimpi terbesarnya adalah untuk kembali berkumpul dengan adiknya, Arfa di Purbalingga. Ya, sudah beminggu-minggu Yanuar berkaca-kaca ketika berbicara melalui telepon dengan adiknya yang masih berumur empat tahun. Begitu sayangnya, hingga motivasinya sembuh adalah agar tetap bisa bermain bersama Arfa.

DSC02887_2K

Akan tetapi akhir-akhir ini kondisi Yanuar kembali memburuk. Hasil tes kedua menyatakan bahwa sel kanker di tubuh Yanuar masih 20%, jadi ia harus mengulang kembali kemoterapi dari minggu ke-4 sesuai protokol. Harapan kami untuk segera pulang semakin jauh. Tabungan dan dana kami untuk bertahan di Yogyakarta pun semakin menipis. Kami takut tidak bisa membelikan bahan makanan yang layak dan sehat bagi Yanuar lagi. Beberapa kali aku dan suami sempat memohon bantuan kepada koran lokal, namun belum sekalipun ada tanda-tanda positif. Beberapa pihak pun menyarankan aku untuk mendaftar permohonan bantuan biaya melalui internet, namun karena kami berdua buta teknologi, kami tak paham persyaratan yang dibutuhkan oleh mereka. Hingga kini, kami hidup bergantung pada doa yang kami titipkan pada siang dan malam setiap harinya. Usaha akan terus kami lakukan, namun nasib kami dan permata hati kami Yanuar, telah kami percayakan pada Yang Tak Pernah Mendua di surga sana.”

e8d0fde3c01914495ccb6a6b7fc00200b991293e

[gallery type="slideshow" size="large" link="none" ids="15,16,17,18,19,20,21,22,24,25"]
Facebook Comments

Leave a Reply