“Hanya ada dua hal yang akan mengantarkan Yanuar pada kesembuhan: semangat dan kebahagiaan.”

Hanya ada dua hal yang akan mengantarkan Yanuar pada kesembuhan: semangat dan kebahagiaan. Maka kedua hal itu yang terus aku perjuangkan. Melihat Yanuar tersenyum dan kembali memiliki harapan adalah kebahagiaan besar bagiku.

Tiga minggu lalu Ayah Yanuar terpaksa harus kembali pulang ke Purbalingga. Niat kami adalah ingin meminjam barang satu dua juta untuk dapat bertahan hidup sedikit lebih lama di Yogyakarta. Setelah dokter menyampaikan informasi mengenai kondisi Yanuar dengan sel kanker yang masih 20% dan terdapat beberapa alergi karena ketidakcocokkan obat kemoterapinya, hati kami mencelos. Lutut kami lemas dan air mata tak lagi dapat dibendung. Rasanya sama dengan ketika pertama kali vonis dokter mengenai penyakit Yanuar dilayangkan.

Bukan. Ini bukan saja tentang bagaimana sedihnya diriku. Akan tetapi tentang ketakutan Yanuar setelah dokter menyampaikan informasi tersebut. Ia berdiam diri beberapa hari. Menangis beberapa kali. Yanuar menyendiri di kepompong, ruangan bermain, di rumah sakit selama berjam-jam tanpa mau bicara. Aku tahu dia ketakutan. Aku paham dia kehabisan semangat. Maka, yang terberat bagiku bukanlah kesedihanku. Bukan lagi airmataku. Tetapi seluruh rasa pada diri Yanuar.

Dokter mengatakan Yanuar harus kembali mendapatkan perawatan dari minggu keempat, sesuai protokol yang diberikan. Itu artinya harapan kami untuk pulang semakin jauh. Artinya uang tabungan kami tak akan cukup. Maka, berbekal sisa-sisa keberanian, kami memutuskan untuk berpisah sementara karena suamiku harus mencari cara mendapatkan uang. Ia kembali ke Purbalingga, lalu mendapat tawaran menjadi tukang bangunan di Purwokerto. Meski aku tahu benar suamiku tak ingin meninggalkan kami berdua di kota asing ini, ia tidak punya pilihan.

Beberapa hari setelah suamiku pergi, Yanuar harus dibawa ke IGD. Gusinya mengalami pendarahan hingga pipi dan seluruh wajahnya bengkak. Jujur saja, aku takut luar biasa. Saat itu, di kantongku hanya ada seratus ribu rupiah. Aku dan Yanuar sama takutnya. Akan tetapi aku akhirnya nekat meminjam uang pada pasien lain di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) agar aku dapat membawa Yanuar ke IGD agar kondisinya tak semakin parah.

Malam dan siang bagiku sama panjangnya, kini. Terlebih lagi karena kini aku menghabiskannya sendiri. Yanuar sering sekali berdiam diri, tak mau berbicara karena takut pada penyakitnya. Aku beberapa kali bicara pada suamiku lewat telepon namun di penghujung percakapan, kami berdua terlalu sering menghela napas tak kuasa.

Semuanya begitu. Hingga sore itu, Kamis (28/4), ada satu pesan dari Mbak Santika. Ia mengabarkan bahwa ada 215 donatur yang telah menyumbangkan donasi untuk anakku, Yanuar. Dulu, Mbak Santika pernah mengatakan akan coba cari dana lewat internet, cara yang tak pernah aku pahami. Maka, sore itu secercah harapan muncul ketika pada penghujung pesan Mbak Santika mengatakan akan menjenguk kami pada akhir minggu.

DSC09391_2K

Ternyata ia tak berbohong. Sabtu sore (30/4) Mbak Santika dan Mas Bagus datang menemui kami di YKI. Mereka mengajakku dan Yanuar ke dapur, tempat kami biasa mengobrol tanpa perlu didengar oleh pasien lain. Kalimat demi kalimat mereka sampaikan. Tak sedetik pun jantungku berdegup lebih pelan. Yanuar duduk di sampingku sambil memegang erat ujung jilbabku.

“Tiga puluh empat juta,” kata Mbak Santika. Angka-angka itu masuk ke dalam benakku untuk dicerna terlebih dahulu. Lalu tanpa sadar aku menangis hebat. Aku memeluk Mbak Santika, dan Yanuar secara bergantian. Mana mungkin aku mampu mendapatkan uang sebegitu banyaknya. Membiarkannya ada dalam benakku pun aku terlalu takut. Uang tersebut bukan hanya harapan untuk biaya obat-obat tambahan yang sering tak ada di apotek rumah sakit. Tetapi seperti ribuan kunang-kunang bercahaya yang membuat Yanuar semangat lagi. Sore itu ia terlihat begitu bahagia, tak berhenti tersenyum.

DSC09364_2K

Tiga puluh empat juta lebih. Sungguh aku terlalu terkejut untuk sekedar memiliki rencana. Sungguh aku tak sabar ingin menceritakan harapan ini pada suamiku yang mungkin saja sedang kepanasan mengaduk semen di tempat bangunan. Sungguh tak sabar aku mewujudkan mimpi terbesar Yanuar saat ini: membawa adik Yanuar dari Purbalingga ke Yogyakarta.

Yang aku tahu, hanya ada dua hal yang akan mengantarkan Yanuar pada kesembuhan: semangat dan kebahagiaan. Jika Anda adalah orang-orang yang menyisihkan sebagian harta Anda untuk membantu saya mewujudkan kebahagiaan Yanuar; jika Anda telah bermurah hati membagikan semangat kebaikan untuk mendirikan lagi semangat Yanuar melawan penyakitnya; jika Anda adalah utusan-utusan sang Pemilih Surga yang telah mendoakan di malam-malam yang panjang; jika Anda adalah pemilik hati yang telah peduli; maka saya mengucapkan ribuan terima kasih. Terima kasih telah menjadi pemilik cahaya bagi dunia kami yang gelap di kala itu. Terima kasih telah menjadi sumber semangat Yanuar yang mempersembahkan pembuktian yang nyata. Anda adalah malaikat kami. Terima kasih.

[gallery type="slideshow" link="none" size="large" ids="34,35,36,37,38,39,62,47,48,49"]

Facebook Comments

Leave a Reply