Selamat Jalan Dik Misbah

Sore ini seperti biasa, aku sedang berada di hadapan laptop di kantor. Membaca dan membalas email, berbincang satu dua kali dengan teman sekantor, lalu tenggelam dalam topik-topik pekerjaan yang mulai aku geluti dengan gembira. Sampai satu pesan masuk ke handphone-ku. Pesan itu dari ibunda Dik Misbah. Kalimatnya sederhana dan tanpa basa-basi. “Mbak Santika, Misbah sudah tiada. Mohon maaf bila kami banyak salah.” Satu dua detik aku tercengang. Lalu kubaca lagi pesan itu berkali-kali. Bunyinya tetap sama, mengabarkan kalau Misbah sudah tiada. Detik berikutnya aku berjalan cepat menuju musala putri, lalu kutelepon ibunda Dik Misbah. Setelah berbincang dengannya sekitar 7 menit, aku menutup telepon berlinangan air mata. Dik Misbah benar-benar telah tiada.

Aneh rasanya. Aku baru bertemu dengannya dua kali. Dua-duanya di pusat kanker RS Dr. Sardjito Yogyakarta. Pertemuan sederhana dengannya menggerakan ratusan orang menyumbang untuk kesembuhannya. Satu hari sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku menyerahkan lebih dari 34 juta rupiah sambil terisak haru mendengar mereka berdua menangis. Beberapa kali setelah aku pindah, ibunda Dik Misbah selalu rajin memberi perkembangan kondisinya. Kadang membaik, kadang memburuk. Namun sungguh, aku tak pernah membayangkan ia akan pergi secepat ini.

Sejak aku menyerahkan uang amanat sebesar 34 juta tersebut, aku berpesan untuk memprioritaskan pengobatan Dik Misbah. Dik Misbah mengatakan ingin sebagian uangnya digunakan untuk membenahi rumahnya yang tidak lagi layak huni dan untuk uang sekolah kakak dan adiknya. Sebulan yang lalu (6 Maret 2017), ibunda Dik Misbah mengirimkan foto rumahnya yang sedang direnovasi. Satu hari setelahnya (7 Maret 2017), ambulans yang membawa Dik Misbah pulang dari Yogyakarta mengalami kecelakaan. Tanggal 19 Maret ibunda Dik Misbah mengatakan kalau Dik Misbah divonis relaps kedua dan tubuhnya menolak untuk dimasukkan obat. Ia tidak mau makan selama seminggu dan tidak berhenti muntah darah. Dan Senin malam kemarin (3 April 2017), ia meninggal di pelukan ibundanya.

[gallery link="none" columns="2" ids="295,324"]

Kau tau apa yang membuatku tak bisa berhenti menangis? Ibunda Dik Misbah tak berhenti mengucapkan maaf. Ia meminta maaf karena tak bisa menggunakan uang yang kuserahkan sebaik mungkin sehingga begini akhirnya. Ia berucap dengan penuh penyesalan karena begitu banyak orang yang mengharapkannya sembuh. Aku tak bisa berhenti bersedih karena aku paham betul bahwa ibunda Dik Misbah beserta seluruh keluarganya sudah berusaha sebaik mungkin. Bahwa ini adalah jalan Allah dan memang yang terbaik untuknya.

Yang membuatku semakin merasa kelu adalah ibunda Dik Misbah mengatakan jika sisa uang donasi yang belum terpakai telah dibagikan kepada beberapa pasien kanker lain di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta. Sebagian akan ia sumbangkan kepada tetangga yang baru saja lahir kembar tetapi ibunya meninggal dalam persalinan. Baru sebagian kecil lainnya digunakan membangun warung seadanya untuk memulai hidup baru setelah ini. Aku kelu dan malu. Di tengah himpitan kesedihan dan kehilangan anak, ibunda Dik Misbah masih memikirkan orang lain. Di tengah hidupnya yang serba kekurangan, ia menyalurkan amanat ratusan orang untuk kebaikan lainnya. Namun aku juga bahagia. Bahagia karena Dik Misbah pasti bahagia di atas sana. Ia pasti bangga atas apa yang dilakukan keluarganya untuk orang lain pula. Selamat tinggal Dik Misbah, selamat menjemput kebahagiaan yang abadi.

Facebook Comments

Leave a Reply