Perjuangan Hidup dan Deru Gangsing Bambu

DSC09683_2K

“Sebenarnya apalagi kebutuhan hidup selain makan? Setiap hari aku berjalan di sepanjang jalan Malioboro, berdagang mainan-mainan tradisional dari bambu sambil berharap masih ada satu dua orang melirik daganganku di tengah maraknya permainan modern saat ini. Meski tak tentu dapat berapa setiap harinya, aku lakukan pekerjaan ini setiap hari.

Istriku bertani di kampung. Ia tak sungkan berpanas-panas ria mencari rumput untuk makan ternak tetangga. Serupiah dua rupiah kami kumpulkan untuk makan setiap harinya. Sementara aku di sini, memikul keranjang ini sepanjang jalan dari pagi, hingga petang hampir menjemput pukul 5 sore.

DSC09694_2K

Beberapa orang berhenti sejenak. Sambil membeli satu dua seruling atau satu dua gangsing bambu mereka bertanya ‘apa cukup, Pak?’. Lalu aku justru bingung. Mengapa tidak cukup? Apalagi yang sebenarnya dibutuhkan selain makan? Kami tak pernah berkeinginan tinggi membeli pakaian yang mahal, atau sekedar berjalan-jalan keluar kampung. Dengan usia 65 tahun ini, hanya syukur yang sempat kami lakukan. Tamak dan kerakusan sudah tak pernah lagi mampir di gubug reot kami. Kesombongan agaknya cukup lelah bertamu pada kami karena tak sekalipun kami bukakan pintu untuknya. Dalam tua renta usia kami, hanya untaian doa dan kesederhanaan yang kami banggakan. Yang kami persembahkan bagi Pemilik Surga.” –Pak Kamto, pedangan mainan tradisional di Malioboro-

DSC09726_2K

“Sejak empat tahun lalu aku memutuskan untuk berdagang mainan-mainan tradisional ini. Gangsing dan seruling bambu yang aku beli untuk dijual lagi dari Wonosari. Sebelumnya, aku dan istriku bertani. Kami menggantungkan hidup dari apa yang kami tanam. Cukup sebetulnya. Hasil tani kami sudah cukup memenuhi kebutuhan harian kami, namun apa gunanya aku jika aku tak bekerja.

DSC09707_2K

Usiaku 78 tahun. Kebanyakan orang di usiaku mungkin lebih senang berada di rumah sambil menyeruput teh panas setiap senja. Atau sekedar berkunjung ke rumah cucu setiap akhir pekan. Namun aku tak bisa begitu. Aku tak bisa tinggal diam di rumah selama ragaku masih mampu menopang semangat yang membara untuk bekerja.

Sebelum bertani, aku adalah perangkat desa. Seorang kepala dukuh di kampungku. Semua orang menghormati posisiku. Lagi-lagi, aku tak bisa tinggal diam berpangku tangan saja. Meski 28 tahun aku menjabat, tak pernah aku mengandalkan jabatan formalku saja di kampung, aku selalu berusaha bekerja yang lain. Malas dan putus asa sudah lama tak berkawan denganku. Di usiaku yang cukup renta ini, hanya kerja keras yang bisa aku banggakan.”- Pak Sutiyono, pedagang mainan tradisional di Malioboro

DSC09782_2K

“Selepas aku lulus SMP, tentu saja aku ingin melanjutkan sekolah lagi. Akan tetapi orang tuaku kolot. Mereka konservatif dan tidak memberikanku kesempatan. ‘Sana kerja saja, bantu kakak-kakakmu cari uang di Jakarta’ begitu kata mereka. Maka dalam umur belasan tahun, aku berangkat ke ibu kota mengadu nasib.

Aku bekerja sebagai pemasang karpet di perusahaan interior selama dua tahun. Lalu aku berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain demi mendapat upah yang lebih tinggi. Hingga pernah aku mendaoat gaji 25.000 rupiah per minggu. Sangat banyak ketika itu, karena biaya makan sehari hanya 1.500 rupiah. Kala itu, aku menjadi muda dan berkecukupan. Namun, tentu hidup tak semudah itu.

Aku bertemu istriku di Jakarta. Kami berdua sama-sama orang kampung dari Jawa. Dia dari Klaten, dan aku dari Gunung Kidul. Setelah menikah kami sempat beberapa waktu mencoba idealis dengan bertahan di Jakarta. Kala itu, aku bekerja membanting tulang dari satu proyek bangunan ke proyek lainnya. Siang malam mengaduk semen dan memalu paku, namun akhirnya aku tak kuat. Kami menyerah dan pindah ke kampung halamanku di Semin, Gunung Kidul.

DSC09755_2K

Sejak delapan tahun lalu aku membanting setir dan bekerja sebagai pedagang mainan tradisional. Aku berkeliling di Jogja. Malam tidur di emperan, hingga ketika fajar aku diusir. Aku pantang pulang sebelum dagangan gangsing, seruling, dan boneka akar wangi ini terjual habis. Demi kedua anakku yang masih sekolah, dan istriku yang membantu bertani di kampung, aku kerja mencoba seikhlas mungkin. Mencari rezeki tujuannya hanya satu: mendapat berkah dalam setiap suapan nasi keluarga kami; mendapat ilmu kehidupan bagi anak-anak kami; serta mendapat kesempatan mengenyam nikmat di tempat Penjaga Surga nanti.” –Pak Wagimin, pedagang mainan di UGM

[gallery type="slideshow" link="none" ids="110,111,112,113,114,115,116,117,118,119,120,121,122,123,124,125,126,127"]
Facebook Comments

Leave a Reply