Pedagang Keranjang Bambu Anyaman: Berjuang Melawan Zaman

DSC09916_2K

“Sudah delapan belas tahun aku berjualan keranjang anyaman. Aku berjalan dari waktu ke waktu, zaman ke zaman. Satu kali berangkat biasanya aku membawa 15 biji yang terbagi ke dalam lima set yang berbeda. Ukuran kecil, sedang, dan besar. Kalau sedang mujur, maka dagangan ini bisa habis dalam waktu dua hari. Pun ketika waktu tak berpihak padaku, bisa 4-7 hari aku berkelana dari kampung halaman.

DSC09874_2K

Kebanyakan dari daganganku habis di kala malam ketika aku mulai mangkal. Siang hari terasa lebih panjang dengan perjalanan kaki memikul lusinan keranjang buatan ini. Biasanya aku dipandang sebelah mata oleh para pengemudi motor dan mobil, mungkin dianggap menghalangi bahu jalan yang penuh sesak oleh daganganku. Meskipun malam terkadang lebih baik hati, aku tak bisa memungkiri bahwa duduk melamun adalah yang biasanya kulakukan. Lalu satu dua kendaraan berhenti dan meminang daganganku satu dua biji sebelum meneruskan perjalanan pulang. Aku memang memutuskan untuk tidak berkeliling di kala malam karena penduduk mungkin saja resah jika aku berjalan dalam gelap di kampung mereka.

Keadaan menjadi lebih berat kini. Bukan hanya karena para pedagang keranjang anyaman semakin banyak, tetapi juga karena aku kini bersaing dengan peralatan rumah tangga yang lebih canggih. Dengan bergesernya pandangan orang tentang anyaman bambu. Dengan usia yang semakin renta dan bahu yang semakin lemah. Zaman demi zaman. Aku bukan hanya berjuang berdagang anyaman, namun aku berusaha bertahan agar tak ditelan zaman.” –Pak Purmaimin-

 

DSC09832_2K

“Sejak aku mampu mengingat dulu, aku telah hidup bergantung dari bambu. Dulu aku tinggal di gunung dengan bapak dan ibu yang juga adalah pengrajin bambu. Karena sulitnya hidup, aku bahkan tak lulus SD. Atau jangankan bersekolah, memakan sepiring nasi pun dulu hanya satu kali seminggu.

Umurku kini 60 tahun, artinya sudah 24 tahun aku berjualan keranjang anyaman ini. Dengan kondisi yang semakin sulit kini, tentu aku berpikir ingin berganti pekerjaan. Ingin rasanya aku bisa berjualan pintu atau barang furnitur lainnya yang berasal dari kayu. Namun apa mau di kata, tak sepeser pun aku punya modal. Uang hasil berdagang keranjang hanya bisa untuk kehidupan sehari-hari yang sederhana.

DSC09848_2K

Dengan berdagang keranjang anyaman ini setidaknya aku sekeluarga belajar menghargai suatu proses. Untuk satu biji keranjang saja, butuh waktu satu hari khusus untuk membelah bambu. Lalu satu hari lainnya untuk memotong-motong. Hari berikutnya kami habiskan untuk memberi warna-warna tertentu, serta hari berikutnya proses menganyam dimulai. Dari anyaman bambu kami belajar bahwa proses yang panjang adalah kerja keras. Bahwa proses yang sulit membawa kami menjadi keluarga yang lebih paham arti bersyukur. Hidup yang keras mengajari kami untuk berpasrah.” –Pak Wagimin-

[gallery type="slideshow" link="none" ids="139,140,141,142,143,144,145,146,147,148,149"]
Facebook Comments

Leave a Reply