Misbah Lawan Leukimia

“Sebelumnya aku tak pernah paham apa itu Leukimia. Ia hanya satu jenis penyakit yang biasanya sering kudengar di film dan tayangan TV; penyakit yang hanya menyerang orang-orang kaya yang berlimpah harta, yang bisa berobat sampai ke negara maju seperti Singapura atau Eropa. Maka, ketika tiga belas bulan lalu anakku divonis menderita leukimia, seluruh hidupku terasa gelap.

Aku butuh waktu seminggu untuk percaya pada apa yang terjadi. Setelah dokter melayangkan vonis leukimia pada Misbah, anakku, tentu aku hanya menganggapnya salah diagnosa. Aku bawa Misbah ke puskesmas lain, lalu ke dokter, lalu ke dokter spesialis, hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Sayangnya, tak satu pun dari pemeriksaan medis tersebut membantah kondisi tubuh Misbah yang sudah digerogoti penyakit ini. Sesampainya aku pada titik yang tak bisa menolak, hatiku terjatuh lunglai. Tubuh Misbah telah dipenuhi sel kanker hingga 90%. Dunia seakan runtuh bagiku. Rasa sesal yang begitu tinggi menggelayuti. Bukan hanya karena rasa tidak percayaku membuat Misbah terlambat mendapat tindakan medis, namun karena akulah yang menyebabkannya sakit kanker.

Dokter mengatakan kalau penyebab terbesar penyakit ini adalah pola makan Misbah yang tak sehat. Terlalu banyak pengawet, pemanis, pewarna, dan zat-zat kimia lain yang tak bisa ditelan oleh tubuh kanak-kanaknya. Di pagi hari sebelum ia berangkat sekolah, aku seringkali memberinya sarapan mie instan, belum lagi ditambah berapa jumlah kali makan malam dan sahur yang kusuguhkan padanya berupa mie instan dan makanan berpengawet. Dulu, aku menganggapnya biasa dan praktis. Namun kini aku menyadari betapa ketidaktahuanku berujung pada penderitaan Misbah.

[gallery columns="2" link="none" ids="293,292,298,297"]

Setiap kali mengingat kebiasaan burukku dulu, hatiku menjadi perih. Belum lagi ditambah tangisan Misbah ketika pertama kali kudorong kursi rodanya ke pusat kanker anak di RS Sardjito. Ia meraung ketakutan. Takut sakit, takut gundul, takut diejek teman-temannya. Malam-malam yang panjang kuhabiskan di samping Misbah yang merintih kesakitan, “Badanku perih, Bu.” Dalam setiap rintihan, aku panjatkan doa agar aku dapat menguatkan Misbah meski hatiku rasanya ingin menyerah.

Misbah adalah anak keduaku. Sejak vonis dokter dilayangkan Januari 2016 lalu, anak bungsuku selalu kubawa ke Jogja. Tak jarang aku tinggal ia di lantai 1 ketika Misbah harus dikemoterapi di lantai 7. Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku tak ingin ia menyaksikan ibunya tak berhenti menangis dan kakaknya merintih kesakitan. Maka, aku tak punya pilihan selain meminta suamiku yang sebelumnya bekerja sebagai buruh perkebunan di Batam untuk pulang.

Kakak Misbah yang pertama baru saja menamatkan SMP. Ia dengan lapang hati bersedia menanggalkan mimpi besarnya untuk bersekolah di SMA karena ia harus membantu bekerja untuk biaya pengobatan Misbah. Kini aku dalam ketakutan yang besar. Aku tak ingin adik Misbah (anakku yang ketiga) meneruskan jejak kakaknya untuk putus sekolah karena tidak ada dana. Masa depan anak-anakku masih panjang, maka semua usaha yang bisa kulakukan harus diupayakan.

Setiap dua minggu sekali ketika Misbah pulang ke rumah singgah, aku menyempatkan diri membuat kue-kue kecil. Aku jual semampuku agar bisa menyambung hidup dan sekolah anak-anakku. Semangat Misbah untuk tak mengeluh menjalani pengobatan membuatku bertekad untuk tak menyerah pula. Ya, Misbah tak pernah menyerah. Ketika pada minggu ke-27 akhirnya ia sudah membaik. Kala itu, aku memutuskan untuk kembali ke kota asal kami di Purwokerto. Hampir saja ia masuk sekolah kala itu, namun penyakit ini kembali merubuhkan benteng pertahanan tubuh Misbah. Tubuhnya kembali dipenuhi sel kanker hingga 92% akibat kelelahan dan kami yang menunda membeli obat karena alasan biaya. Kini, kami sedang membangun kembali semangat melawan leukimia.

[gallery columns="2" link="none" ids="300,295"]

Aku tak pernah menghitung berapa habisnya biaya untuk pengobatan Misbah. Bagiku, hidup adalah hari ke hari. Selama aku bisa membelikan Misbah obat dan memberinya makan yang layak, maka tak makan pun aku tak masalah. Seringkali tak sepeser rupiah pun tertinggal di kantongku. Namun, jika Misbah menginginkan sesuatu, detik itu pula aku akan memperjuangkannya. Tak terhitung lagi berapa jumlah barang yang telah kujual dan kugadaikan. Mungkin nilainya telah sama dengan ribuan doa yang kukirimkan setiap malamnya, dengan jumlah air mata penyesalan yang berlinang, dengan jatuh bangun semangat yang coba kuhimpun dalam setiap kedipan mata kulihat anakku menderita. Aku percaya Misbah bisa sehat kembali jika aku menyelimuti semua proses ini dengan keikhlasan. Biarlah ini semua menjadi harga yang kubayar atas ketidaktahuanku, menjadi pembelajaran yang berharga tentang rasa ikhlas bagi hidupku. Biarlah takdir aku pasrahkan pada gantungan doa setiap malamnya, biarkan kupasrahkan kisah ini pada Sang Penjemput Doa di surga sana.”

[gallery type="slideshow" link="none" ids="291,292,293,295,297,298,300,301,302" orderby="rand"]

LINK DONASI

Facebook Comments

Leave a Reply