Kisah Tukang Cukur Rambut: “Apa Kau Pernah Mengurai Arti Bahagia?”

dsc03357_bagus-eko_web

apa kau pernah mengurai arti bahagia?

kadang tersangkut pada satu dua mahkota

atau terselip pada tumpukan harta

maka kuulang lagi sketsanya

tak lupa aku besarkan bagian rasa yang terbungkus renyah tawa

kuresapi dalam-dalam agar tak kunjung hanya sementara

kuukur senyuman dari kiri hingga kanan menyentuh telinga

lalu kuperlihatkan pada istri dan anak rupanya

kami tersenyum bersama

orang seringkali lupa

bahagia itu sederhana

Empat belas tahun lalu aku memutuskan untuk keluar dari kios cukur rambut tempatku bekerja. Alasannya sederhana, menjadi pegawai tidaklah menyenangkan. Lalu aku kumpulkan tabunganku beberapa tahun terakhir, lalu kubelanjakan peralatan cukur untuk diriku sendiri. Tentu saja prosesnya tak mudah. Aku harus menyakinkan istriku dan mengumpulkan nyali untuk menghidupi keluarga lewat tanganku sendiri. Beberapa waktu kemudian, aku telah menggelar kios pertamaku sendiri di pinggir jalan. Beberapa meter dari Museum Affandi.

[gallery columns="2" link="none" ids="209,200,199,198"]

Setiap pagi jam 9, aku berangkat menuju kantorku. Menghabiskan satu hari berkutat dengan peralatan cukur serta berinteraksi dengan pelangganku yang selalu ramah. Di penghujung hari yang cerah, aku pulang menggendong peralatan cukurku dan membawanya dengan Motor Supra keluaran dekade lalu. Jika hari mendung dan hujan datang, aku lebarkan payung besar agar kiosku tak tenggelam dalam rinai.

Menjadi tukang cukur pinggir jalan tak membuatku merasa kecil. Meski mobil dan motor berhamburan di sudut kiosku, lalu seringkali satu dua mata memandang rendah sambil berjalan melewatiku, dan bising kendaraan menjadi musik pengiringku bekerja, namun aku tak pernah mengeluh. Bukankah bersyukur menjadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan?

Beberapa tahun terakhir, bekerja di dekat Museum Affandi semakin tidak nyaman. Pembangunan gedung, hotel, sampai jalan raya tak berhenti dilakukan. Maka, beberapa tahun lalu aku berpindah kios di pinggir halaman keraton. Lewat tempat dudukku, aku dapat melihat pintu Keraton Yogyakarta; tersenyum pada satu dua wisata asing yang memandang aneh gerak-gerikku; atau sekedar menunduk sopan melihat beberapa tamu keraton melewatiku. Dari tempat dudukku, aku merasa semakin hidup dalam keistimewaan bumi Hadiningrat ini.

Anakku dua, yang satu duduk di kelas 1 SMP dan yang satunya hampir lulus dari SMK. Aku dan istriku tak pernah luput mengajari kedua putra kami untuk merasa cukup atas apa yang dimiliki. Meskipun sederhana, pintu rumah kami di daerah Godean tak pernah tertutup dari kebahagiaan. Satu dua waktu tentu saja kami merasa kekurangan, akan tetapi hidup telah dirancang tidak lebih sulit dari yang mampu kami jalani.

[gallery link="none" columns="2" ids="204,203,206,205" orderby="rand"]

Apakah kau pernah mengurai arti bahagia? Jika ya, apa maknanya? Selalukah terkait dengan harta dan tahta? Bagiku, bahagia adalah kata yang ajaib. Ia tak sembunyi pada berapa jumlah pelanggan yang kudapat hari ini. Pun tersangkut pada status sosial yang melekat pada gunting cukurku. Bahagia bagiku adalah merasa cukup. Merasa bebas. Bahagia bagiku adalah menyekolahkan kedua putraku dengan rezeki hasilku memangkas ujung rambut. Bahagia bagiku adalah menikmati masakan istri di sela kesibukanku di halaman keraton. Bahagia bagiku adalah ketika putraku menepuk dada dan memandangku dengan bangga, “Aku lihat video Bapak di youtube”. Bahagia bagiku adalah menggelar dua buah kursi, lalu duduk di salah satunya sambil menoton pertunjukkan Keraton Yogyakarta. Bahagia bagiku tak ada sangkut pautnya dengan harta dan tahta. Bahagia bagiku adalah tentang merasa cukup dan tak lupa mengucap syukur. Bahagia bagiku sederhana. -Pak Udin-

[gallery type="slideshow" link="none" ids="198,199,200,201,202,203,204,205,206,207,208,209" orderby="rand"]
Facebook Comments

Leave a Reply