Kisah Pedagang Sapu dan Sulak Tunanetra (Bagian 1): Meski Langit Tak Lagi Biru

mengapa langit tak lagi biru

bukan karena ia tak lagi hinggap pada tatapku

lalu satu dua orang menepuk bahu

menyampaikan duka yang mereka titipkan pada waktu

orang seringkali tak tahu

hati ini tak pernah tua oleh sendu

 

mengapa langit tak lagi biru

karena kubuat ia menjadi jingga

lalu esok menjadi ungu

Aku tak terlahir sebagai tunanetra. Ketika masih duduk di bangku SMP dahulu, aku divonis menderita sakit panas dalam. Awalnya aku pikir hanya panas dalam biasa, namun setelah beberapa waktu ia tak kunjung membaik, aku akhirnya paham sesuatu yang serius telah terjadi. Dalam sekejap, kemampuan mataku untuk melihat menurun drastis. Ah, tidak apa. Setidaknya aku masih bisa menatap langit yang biru dan kuningnya cahaya rembulan.

Tak lama setelah itu aku merasa ada masalah lagi pada mataku. Maka segera aku membawa diri ke Rumah Sakit Sardjito sambil menggantungkan harapan barangkali ada keajaiban untuk melihat lagi dengan sempurna. Setelah proses pengobatan yang lama, dokter akhirnya datang sambil memegang kedua tanganku. Dengan lembut, ia menyampaikan bahwa mulai detik itu aku tak dapat lagi melihat apapun yang nyata di dunia ini.

Tentu saja hidupku berubah menjadi gelap. Tak sebentar aku rasakan ada sesuatu yang besar dalam dadaku memprotes kenyataan mengapa dokter tak mampu menyelamatkan penglihatanku. Tak ada lagi langit yang biru. Tak ada lagi cahaya rembulan kuning. Tak ada lagi wajah Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku. Hanya ada aku dan kegelapan.

[gallery link="none" columns="2" ids="244,243,242,241"]

Akan tetapi, Tuhan selalu punya rencana yang indah. Setelah dua pasang mata Ia ambil, sungai kebahagiaan di hidupku tak pernah berhenti. Bapak dan Ibu mengirimku ke sekolah Dinas Sosial khusus untuk tunanetra. Di sekolah itu aku belajar berbagai keterampilan tangan, mulai dari menjahit hingga menganyam bambu. Aku juga bertemu dengan teman-teman yang tak pernah lelah mengajariku cara bersyukur; berbagi takdir sebagai tunanetra; berbagi kebahagiaan meski dalam keterbatasan. Kau tahu apa yang lebih indah? Aku bertemu seorang gadis yang kelak menemaniku di sepanjang hidupku. Ramini namanya.

Aku dan Ramini menikah beberapa waktu setelah kami lulus dari sekolah. Sebagai pasangan tunanetra, tak jarang orang lain mengkhawatirkan kondisi kami, tak jarang pula mereka mengasihani kami. Namun, mereka hanya tidak tahu. Hidup kami telah dirancang untuk tak terbebani lebih dari yang mampu kami panggul bersama.

Aku dan Ramini dikaruniai enam orang anak. Seluruhnya mampu melihat, tidak seperti Bapak dan Ibunya ini. Empat putra dan dua putri. Tak pernah sehari pun mereka tak membuat kami mengucap syukur. Setiap harinya, mereka bergantian mengantar Ramini ke pasar, membantunya mengurus rumah, mengantarku mencari nafkah di kota untuk berjualan keset, sapu, dan sulak. Kini anak sulungku telah mampu bekerja di Jakarta dan menghidupi keluarganya. Adik-adiknya tengah bekerja, kuliah, dan sekolah. Aku dan Ramini berupaya keras melakukan apapun untuk merawat mereka.

[gallery link="none" columns="2" ids="251,240,248,250"]

Langit memang tak lagi biru bagiku dan Ramini. Namun, keterbatasan ini tak menghalangiku untuk berjalan belasan kilometer setiap harinya untuk berdagang sulak, sapu, dan keset. Ia tak menghentikanku berjalan ke masjid kampus UGM untuk menunaikan shalat Dzuhur setiap harinya. Ia bahkan tak pernah pilih kasih dan memberiku kesempatan menapakkan kaki ke tanah suci untuk ibadah umrah. Langit memang tak lagi biru. Namun ia menjadi berwarna-warni. Kadang ia jingga, kadang ia menjadi ungu. Itu semua tergantung pada apa yang tersisa dalam ingatan kami. Ingatan yang tergelar sepanjang rasa syukur di hidup kami. -Pak Suaji, 54 tahun-

[gallery type="slideshow" link="none" ids="240,241,242,243,244,245,246,247,248,250,251,252,253" orderby="rand"]
Facebook Comments

Leave a Reply