Kisah Bakti Seorang Buruh Jalanan: Surga di Telapak Kaki Ibu

Belasan tahun terakhir aku tinggal di Jakarta. Bagi sebagian besar orang, Jakarta menyuguhkan harapan dan janji kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Tak urung kota itu tak pernah tertidur. Selalu ada yang ramai dan berisik. Sebagian mengeluh kelaparan, sebagian berceloteh tentang harapan, dan sebagian lagi tertawa lantang karena kesuksesan. Jakarta tidak terlalu berbeda bagiku. Ia adalah guru terbaik yang membuatku menyaksikan sendiri bahwa hidup adalah tentang perjuangan. Perjuangan yang membawaku tetap mampu bertahan hidup hingga saat ini. Perjuangan seseorang yang rela berkorban membesarkan aku, kakak, dan adikku. Perjuangan seseorang yang tak pernah berhenti. Perjuangan Ibu.

Tujuh tahun lalu aku diberi kabar kalau Ibu tak bisa melihat lagi. Bahwa Ibu hidup seorang diri di tanah kelahirannya, Yogyakarta. Setelah mendengar kabar itu, resmi sudah aku pulang pada Ibu. Jika aku dapat melongok kembali ke belakang, mengenang hidup bebas di Jakarta, sudah berkali-kali rasanya aku ingin kembali ke sana. Tapi mana mungkin aku meninggalkan Ibu dalam kondisi seperti ini. Dalam kondisi kakak dan adikku yang sudah tidak peduli. Hidup kami yang pas-pasan kala itu memaksa kami untuk sulit berkomunikasi satu sama lain sehingga sudah terpisah-pisah. Kini Ibu hanya punya aku.

[gallery link="none" columns="2" ids="283,281"]

Umur Ibu sudah 106 tahun. Kami berdua menyewa sebuah kamar kos di daerah Gamping. Dengan biaya sewa harian, kami sudah sangat bersyukur punya atap untuk bernaung di kala hujan. Sehari-hari kami hanya berjalan. Tanpa arah. Tanpa tujuan. Kadang ke Timur, kadang ke Barat. Sesungguhnya ingin sekali aku bekerja lebih baik, memulai bisnis untuk berdagang atau sekedar ikut proyek orang. Akan tetapi mana mungkin aku meninggalkan Ibu sendirian. Meninggalkan Ibu di kamar kos seharian, membuatnya kehilangan momen kecil untuk dihabiskan bersama satu-satunya anak yang masih peduli. Maka, kami hanya berjalan, duduk, dan berdoa. Agar hari itu tetap bisa makan, tetap bisa bertahan.

Tentu saja ini tak mudah bagi Ibu. Ibu harus berjalan bersamaku puluhan kilometer setiap harinya. Kadang di bawah terik matahari, kadang kami basah kuyup karena hujan. Tapi Ibu tak pernah mengeluh. Berkata lelah pun Ibu tak pernah. Jadilah aku harus paham bahwa setiap beberapa meter sekali, Ibu harus istirahat. Ibu juga tak pernah mau dikasihani. Ibu jarang sekali mau menerima sumbangan makanan atau uang dari orang yang lewat. Jika memang Ibu sudah makan, maka tak ada lagi makanan selanjutnya yang boleh kami terima.

[gallery columns="2" link="none" ids="282,280,279,278"]

Ibu adalah pemeran utama dalam hidupku sejak dulu hingga kini. Ibu tak pernah berhenti berjuang meski kadang ia terlalu lelah untuk mengutarakan. Ibu memberi contoh bahwa hidup bukan tentang menjadi tamak atau berbangga diri, tapi juga tentang kesabaran dan perjuangan. Bahwa hidup bukan hanya bertaruh tentang pekerjaan atau harta, tapi juga tentang cinta dan keluarga. Bahwa rasa cukup itu tak dilahirkan dari seberapa banyak uang yang kita kumpulkan, tapi seberapa banyak bakti yang kita letakkan. Ibu berjasa besar bagi hidupku. Maka ini saat yang tepat untuk mempersembahkan sedikit baktiku pada Ibu. Meski aku lelah, terkadang ingin putus asa, namun demi melihat Ibu dapat bertahan sehari lebih lama aku akan bertahan. Banyak orang seringkali lupa, Ibu adalah yang kita lihat pertama kali ketika kita lahir, pun doa-doanya yang menyelamatkan kita di kehidupan. Banyak orang seringkali tak ingat dimana letak surga. Ia ada di telapak kaki Ibu. -Pak Bambang dan Ibu Slamet-

[gallery type="slideshow" link="none" ids="274,275,276,277,278,279,280,281,282,283,284" orderby="rand"]
Facebook Comments

Leave a Reply