Kisah Abdi Dalem Keraton Yogyakarta: Pengabdian tanpa Keluhan

dsc03153_bagus-eko_web

Sepuluh tahun lalu aku memutuskan untuk meninggalkan gemerlapnya kehidupan. Kehidupan yang membuatku begitu disegani di stasiun, di jalanan, dan di sepanjang daerah Malioboro. Kehidupan yang telah membawaku pada hiruk pikuk masa muda yang menyenangkan namun fana. Tepat sepuluh tahun lalu, di tahun 2006, aku melepaskan semua jubah kebesaranku di jalanan, dan kembali pulang ke kampung kelahiran untuk mengabdi pada keraton.

Hari-hari awalku sebagai abdi dalem tidaklah mudah. Setelah terbiasa dengan hidup yang cukup mewah, mencari uang dengan instan, banyak teman di sana sini, hidup di rumah dinas kami di Yudanegaran terasa begitu sepi. Begitu jauh dan berbeda. Pun uang kami terbatas sekali, aku dibayar Rp 2.000,00 setiap kali grebegan. Dalam setahun, ada tiga grebegan yang diadakan oleh Keraton. Itu artinya, pemasukan keluarga kami hanyalah Rp 6.000,00 untuk setahun.

[gallery link="none" columns="2" ids="164,159"]

dsc03196_bagus-eko_web

Meskipun begitu, hidup sebagai abdi dalem membuatku merasa luar biasa. Setiap kali aku mengenakan pakaian prajurit, memegang keris, dan menyematkan ronce, aku merasa akan jadi orang pertama sekalipun yang rela maju membela sultan jika terjadi sesuatu. Menjadi prajurit membuatku merasa berbeda; membuatku memahami mengapa hingga tua pun orang masih berjalan kaki menuju pagelaran untuk berjaga. Salah satu hal yang membuatku merasa terhormat adalah ketika Gusti Yudan, panglima tertinggi keraton Ngayogyakarta sendiri memberikanku senjata, sebilah keris lengkung lima. Di antara seluruh prajurit, akulah satu-satunya yang dititipkan kehormatan itu. Menjadi prajurit membuatku merasa beruntung; membuat keluargaku aman dan berada pada jalur yang tepat.

Tentu saja, pilihan yang aku ambil ini tidaklah lepas dari banyaknya masa sulit. Aku berbincang dengan istriku kala itu, kami saling menguatkan untuk tetap bertahan pada pilihan kami menjadi pasangan muda yang lebih baik. Istriku pandai memutar uang. Ia mendukungku untuk melakukan usaha yang lain. Dengan bantuannya, hampir seluruh jenis usaha pernah aku lakukan, mulai dari berjualan es dawet, menarik becak, membuka angkringan, sampai berjualan pecel lele di malam hari. Beberapa kali aku mencoba untuk mendaftar sebagai satpam. Sebegitu inginnya aku menjadi satpam hingga aku pernah mendaftarkan diri menjadi satpam UGM, kota, maupun provinsi. Akan tetapi setiap kali aku mengumpulkan berkas, tak satu kalipun aku pernah mendapat panggilan. Akan tetapi, seluruh upaya ini terasa ringan, terasa menyenangkan, karena kami berdua ikhlas menjalani. Kami percaya bahwa sebagai abdi dalem, kami akan mendapatkan berkah keraton yang memudahkan jalan kami.

[gallery link="none" columns="2" ids="173,169"]

Hidup kami kini jauh dari gemerlapnya kota. Meski kami harus berjalan kaki kemana-mana, tinggal di kamar dengan ukuran sangat kecil, menghabiskan malam panjang menarik becak dan berjualan pecel lele, kami merasa hidup terlalu indah untuk dihujani dengan banyak keluhan. Setiap dua puluh hari sekali aku berjaga di pagelaran Keraton. Aku duduk diam dari jam 8 pagi hingga 12 malam di sana sambil meresapi makna hidup. Semakin lama aku bertahan, semakin sejuk hati ini terasa. Satu dua waktu tentu masa sulit datang menghampiri. Akan tetapi, sederhananya hidup di Yudanegaran telah membuat kami merasa cukup untuk terus bersyukur. –Pak Pardi, 39 tahun–

[gallery type="slideshow" link="none" ids="176,159,160,161,162,163,164,165,166,167,168,169,171,172,174,173,175"]
Facebook Comments

Leave a Reply