Arsa yang Bercerita: Pahlawan Tanpa Berita

Aku selalu mengidolakan tokoh-tokoh besar. Tokoh-tokoh besar seperti Barrack Obama, Sheryl Sandberg, Steve Jobs, Dino Patti Djalal, dan Sri Mulyani. Tokoh-tokoh yang aku anggap membawa suatu perubahan besar bagi banyak orang, yang banyak berkorban demi kebaikan masyarakat luas. Aku selalu menganggap mereka pahlawan. Merasakan motivasi yang begitu besar, membuatku selalu duduk paling depan saat kuliah, merelakan tambahan jam untuk tenggelam di puluhan teori ekonomi dan bisnis, lalu mendaftar paling awal pada berbagai kompetisi. Dengan tujuan satu: ingin menjadi seperti mereka.

Lalu bergulirlah waktu hingga saat dimana merantau adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Jakarta. Hari-hari di ibukota sangatlah berbeda dari bayanganku. Ya, tentu saja aku sudah membayangkan macetnya Jakarta atau kemungkinan akan banjir saat musim hujan tiba. Akan tetapi, aku tidak pernah membayangkan bahwa ibukota tidak hanya suatu “tempat” ia juga suatu “kata sifat”. Jakarta dapat mengubah mimpi menjadi kenyataan, namun ia juga dapat menyingkirkan empati demi ambisi.

Suatu malam aku berakhir lebih lama di atas sajadah. Malam itu tercatat sudah 16 jam aku bekerja di kantor dan harus pulang menjelang tengah malam demi menyelesaikan beberapa tanggungan pekerjaan. Seperti biasa, malam itu aku pulang dengan Ojek Online. Meskipun orang tuaku selalu berpesan untuk pulang dengan taksi selepas jam 10 malam, malam itu aku memilih berkelit. Alasannya satu: daerah Senayan tidak pernah sepi, maka seharusnya akan aman. Seperti biasa pula, aku memesan Ojek Online sebelum turun dari lift sembari membereskan laptop dan dokumen yang berserakan di mejaku. Aku melihat notifikasi bahwa aku telah mendapatkan seorang supir. Aku mempercepat langkahku menuju lift, namun sesampainya di halte aku tak melihat siapapun, aku coba telepon tapi tidak tersambung. Akhirnya setelah sekitar 7 menit aku menunggu di halte, seorang pengendara motor berhenti dan berkata, Neng Santika ya Neng?” Ternyata ia adalah supir ojek online yang aku tunggu. Sepuluh menit perjalanan dari kantor ke kos kupenuhi dengan mengomel kepada supir tersebut. Di hari itu aku telah berangkat paling pagi di kantor, pulang paling malam pula, telah berkali-kali dipanggil atasan untuk dikritik dan diberi masukan, aku terlibat beberapa isu yang harus diselesaikan, belum lagi akhirnya skip makan malam dan lupa sarapan. Pada saat itu aku hanya berpikir, After everything that goes wrong today, why this Bapak makes me wait this long at the end of the day?! Sesampainya di depan pagar kos, Bapak ojek ini mengatakan sesuatu dengan raut wajah menyesal, “Maaf ya Neng, saya tadi terlambat. Saya tadi sudah hampir sampai halte tapi istri saya telepon. Anak saya sakit panas tinggi, jadi saya harus angkat. Mungkin tadi Neng telepon juga tidak nyambung, maaf ya Neng sekali lagi.”

Deg.

Aku berdiri pucat pasi sembari melihat Bapak ojek memutar balik dan hilang dari pandangan. Sedetik setelah aku mampu menelan ludah aku cepat-cepat naik ke kamar dan memanjatkan ampun di atas sajadah. Tujuh menit saja, San! Tujuh menit harus menunggu sebentar di halte yang sebenarnya juga tidak sepi. Sepuluh menit mengomel, San! Sepuluh menit pelampiasan atas hari yang buruk pada orang yang sesungguhnya memiliki hidup yang jauh lebih tak beruntung. Aku menghabiskan satu jam berikutnya untuk menangis. Terisak karena mengingat pula kejadian-kejadian lainnya. Berapa kali telah memprotes perempuan baik hati penjaga kos karena wifi yang sering macet, penjual bubur yang terkadang lupa menaburkan kacang, hingga Mas-mas Office Boy di kantor yang terkadang salah meletakkan keripik dan kacang. Terkadang kesulitan mendesak ego untuk jadi lebih dominan dari empati, menyalahkan mereka yang bisa kita salahkan. Padahal jika sukses telah digapai, mereka yang memiliki peran seringkali tidak kebagian kata terima kasih.

Beberapa waktu lalu aku baru saja belajar mengenai self-serving bias. Sebuah bias yang mengelu-elukan diri kita saja apabila keberhasilan dicapai, namun bertendensi menyalahkan orang lain jika ternyata kita gagal. Dalam fase hidup ini, self-serving bias seringkali menjadi salah satu penyakit utama. Membuat anak-anak muda menjadi terlalu sibuk menjadi peran utama dan seringkali lupa bahwa ada banyak pahlawan yang berkorban demi menjadikan kita sampai di titik saat ini. Pahlawan itu bisa berupa tukang jahit keliling yang bersedia menyulap kain batik menjadi seragam sebuah acara dalam waktu tiga hari saja, tukang Ojek Online yang memberikan satu buah ceramah lengkap beserta ayat suci Al-Quran dalam perjalanan 20 menit, atau Bapak Supir taksi yang berjuang menerjang kemacetan demi mengantarkan kita ke airport agar tidak ketinggalan pesawat. Pahlawan banyak rupanya, banyak pekerjaannya, dan beragam kontribusinya.

Aku juga baru kembali dari suatu perjalanan yang sangat inspiratif. Perjalanan ini bercerita mengenai harapan. Harapan yang berbentuk wajah-wajah generasi muda Indonesia yang penuh dengan cita-cita dan semangat untuk berkontribusi. Dalam perjalan tersebut aku semakin menyadari bahwa pahlawan kita dapat berada dimana saja. Di Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 pulau ini, kita termasuk golongan yang berhutang. Kita berhutang pada banyaknya pahlawan kita yang memberi kesempatan kita mengenyam bangku kuliah, mengantarkan kita untuk mendapat pekerjaan, dan menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk membayar segala kebutuhan kita selagi belajar.

Kita dipercayai menjadi segelintir orang yang memancarkan arsa. Arsa untuk memberikan lapangan pekerjaan untuk anak cucu mereka, untuk bahu-membahu membangun tanah air dari ujung Sumatera hingga Tanah Papua, untuk memegang teguh integritas kita namun terbuka pada keberagaman Bhineka Tunggal Ika. Kita berhutang moral pada mereka yang telah berkorban agar kita dapat sampai di bibir Candradimuka, untuk ditempa dan mengabdi kembali kepada mereka. Kepada mereka para pahlawan. Pahlawan yang telah membayar pajak, mendanai pendidikan kita, membangun fasilitas jalan dan layanan publik kita, dan mungkin saja menggaji Bapak-Ibu kita. Mungkin saja para pahlawan tersebut adalah golongan konglomerat yang mobilnya puluhan dan mampu berbelanja di Amerika. Namun ribuan dari pahlawan tersebut adalah petani yang menjajakan peluh di bawah sinar matahari, adalah para nelayan yang menyebar jaring dan kail setiap fajar, dan perumput yang berangkat selepas subuh dan menghabiskan waktu seharian di kendang ternaknya.

Aku selalu mengidolakan tokoh-tokoh besar. Tokoh-tokoh yang aku anggap membawa suatu perubahan besar bagi banyak orang, yang banyak berkorban demi kebaikan masyarakat luas. Namun kini aku juga mengidolakan para pahlawan yang hatinya terlalu besar untuk dielu-elukan di permukaan koran. Para pahlawan yang berkorban sangat besar dan tak menuntut balas selain berharap kita menorehkan pengabdian. Para pahlawan yang dapat berstatus tukang ojek online, tukang bubur, nelayan, petani, dan perumput. Kesulitas terkadang membuat kita lupa. Dan mungkin saja kita membutuhkan dua puluh, atau lima puluh, atau bahkan 127 pasang mata lainnya untuk mengingatkan betapa terpujinya para pahlawan tersebut. Para pahlawan yang melepas kita menjadi arsa untuk ditempa di bibir Candradimuka. Untuk kembali pulang dan menjadi ksatria nusantara. Menjadi ksatria bagi mereka, pahlawan tanpa berita.

 

Santika Wibowo

Facebook Comments

Leave a Reply